Breaking News
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Kabar

Indeks →
Memuat Kabar...

Terbaru

Memuat terbaru...
Iklan

Suara Wilayah

Indeks →
Memuat Suara Wilayah...

Terbaru

Memuat terbaru...
Iklan

Kajian

Indeks →
Memuat Kajian...

Terbaru

Memuat terbaru...
Iklan

Muslimat

Indeks →
Memuat Muslimat...

Terbaru

Memuat terbaru...
Iklan

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Terbaru

Memuat terbaru...

Feature

Indeks →
Memuat Feature...

Terbaru

Memuat terbaru...

Panitia Nasional Muktamar XXIII Al Washliyah Undang PW se-Indonesia Bahas Draf AD/ART

 

JAKARTA — Panitia Nasional Muktamar XXIII Al Jam’iyatul Washliyah mengundang Pengurus Wilayah Al Jam’iyatul Washliyah se-Indonesia untuk mengikuti rapat secara daring melalui Zoom pada Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 16.00 WIB sampai selesai.

Rapat tersebut digelar dalam rangka persiapan penyelenggaraan Muktamar XXIII Al Washliyah. Salah satu agenda utama yang akan dibahas adalah usulan draf Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau AD/ART organisasi.

Dalam surat undangan bernomor 014/PAN.MUK-AW/XXIII/V/2026 tertanggal 20 Mei 2026 M atau 4 Dzulhijjah 1447 H, panitia Steering Committee meminta seluruh Pengurus Wilayah Al Washliyah se-Indonesia hadir dan berpartisipasi dalam pembahasan agenda tersebut.

Dr. H. Dedi Iskandar Batubara, Ketua Panitia Nasional Muktamar XXIII Al Jam’iyatul Washliyah menyampaikan bahwa rapat ini menjadi bagian penting dari proses persiapan Muktamar XXIII Al Washliyah, terutama dalam merumuskan dan menyiapkan bahan pembahasan organisasi.

“Sehubungan dengan rencana penyelenggaraan Muktamar XXIII Al Washliyah, maka dengan ini panitia Steering Committee mengundang saudara untuk hadir dalam rapat melalui Zoom,” ungkap Dedi Iskandar Batubara.

Selain pembahasan kelembagaan melalui draf AD/ART, Muktamar XXIII Al Washliyah juga akan menempatkan gerakan ekonomi umat sebagai salah satu perhatian utama. Ketua Umum PB Al Jam’iyatul Washliyah KH Masyhuril Khamis menyampaikan bahwa penguatan ekonomi umat penting dilakukan karena lemahnya kondisi ekonomi dikhawatirkan dapat memengaruhi keteguhan akidah masyarakat.

Secara tidak langsung, KH Masyhuril menegaskan bahwa pembinaan umat tidak cukup hanya dilakukan melalui penguatan akidah dan akhlak. Organisasi Islam juga perlu memberi perhatian serius pada kemandirian ekonomi agar umat memiliki daya tahan menghadapi tantangan zaman.

“Kita harus membenahi umat kita, membentengi umat kita,” kata KH Masyhuril Khamis (8/5/2026).

Salah satu langkah yang akan didorong adalah memasukkan pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah Al Washliyah. Menurut KH Masyhuril, pola pikir entrepreneur perlu ditanamkan kepada peserta didik agar mereka memiliki bekal kemandirian ekonomi setelah lulus sekolah.

“Al Washliyah punya sekolah, nanti entrepreneur kita jadikan muatan lokal,” ujar KH Masyhuril.

Dengan demikian, Muktamar XXIII Al Washliyah tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi, tetapi juga ruang strategis untuk merumuskan arah gerakan keumatan. Pembahasan AD/ART melalui rapat Steering Committee menjadi bagian dari penguatan tata kelola organisasi, sementara agenda ekonomi umat menjadi ikhtiar Al Washliyah dalam memperkuat kemandirian dan ketahanan umat. 

Bangun Karakter Komunikatif dan Inspiratif, Muslimat Al Washliyah Jawa Barat Ikuti Pelatihan Public Speaking

Bandung, Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa Pelatihan Public Speaking bertajuk “Seni Berbicara di Depan Umum” yang dilaksanakan di Aula Kecamatan Cimahi Selatan, Sabtu, (25/10/2025)

Pelatihan ini terselenggara atas kerja sama dengan Pengurus Daerah Muslimat Al-Washliyah Kota Cimahi dan PC IGRA Kecamatan Cimahi Selatan.

Acara ini menghadirkan dua narasumber kompeten di bidang komunikasi. Narasumber pertama adalah Ketua Program Studi KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr Hj Lilis Satriah MPd yang membawakan materi bertema “Teknik Dasar Berbicara di Depan Umum”.

Dalam pemaparannya, Lilis menjelaskan bahwa setiap individu sejatinya memiliki potensi berbicara di depan umum, hanya saja perlu dilatih dan diarahkan dengan baik.

“Kemampuan berbicara di depan umum merupakan keterampilan penting bagi siapa pun. Terutama bagi pendidik dan aktivis organisasi keagamaan yang menjadi panutan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Lilis memaparkan bahwa ada beberapa faktor utama yang menjadikan seorang pembicara menarik. Di antaranya penguasaan materi, penampilan, dan cara penyampaian.

Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta mampu mengembangkan kemampuan berbicara yang efektif, persuasif, dan berkarakter islami. Dengan demikian, mereka dapat memperkuat peran dalam pendidikan dan dakwah di lingkungan masing-masing.

Pelatihan ini merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam memperkuat literasi komunikasi masyarakat. Khususnya bagi perempuan dan tenaga pendidik agar lebih percaya diri dan komunikatif.

Narasumber kedua adalah mahasiswa Magister KPI, Dini Anjani Nurlatifah, yang membawakan materi “Menjadi MC Profesional, Fleksibel, dan Berkarakter”.

Selain menyampaikan teori, Dini memberikan contoh praktik langsung dan strategi membangun karakter komunikatif seorang pembawa acara yang efektif dan menarik.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar seratus peserta yang terdiri atas ibu-ibu Muslimat Al-Washliyah dan guru-guru Raudhatul Athfal (RA) se-Kota Cimahi.

Antusiasme peserta tampak dari keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab dan praktik berbicara di depan umum, mencerminkan semangat besar dalam meningkatkan kemampuan komunikasi yang inspiratif dan berdaya guna.

 

Buku Pintar Al Washliyah

 


 Penulis: Ridwan Nurdin & Ja'far  Category:  Publisher: Centre For Al Washliyah Studies (Pusat Kajian Al Washliyah)  Telah Terbit: 31 Dec, 2024  ISBN: On Process  Laman: 39  Negara: Indonesia  Bahasa: Bahasa Indonesia  Ukuran: 21 x 14.8 cm 

Buku Pintar Al Washliyah merupakan buku panduan lengkap tentang salah satu organisasi Islam terkemuka di Indonesia, Al Jam’iyatul Washliyah. Buku ini menggali lebih dalam tentang sejarah, nilai, dan perjuangan organisasi yang telah berkontribusi besar dalam membangun bangsa dan negara. Diawali dengan kata pengantar dari penulis dan editor, buku ini membawa pembaca memahami latar belakang pendirian Al Washliyah, termasuk alasan berdirinya, para tokoh pendiri, serta makna mendalam di balik nama “Al Washliyah.” Buku ini juga mengupas asas, akidah, dan fikih yang menjadi dasar perjuangan organisasi. Lebih dari sekadar sejarah, buku ini menjelaskan tujuan dan cita-cita Al Washliyah, berbagai usaha dan amal usaha yang telah dilakukan, serta visi organisasi melalui wijhah, khittah, dan shibghah-nya. Pembaca juga diajak menelusuri peran tokoh-tokoh Al Washliyah di parlemen, struktur organisasi, majelis dan lembaga, hingga organisasi bagian yang mendukung aktivitasnya. Dalam konteks kebangsaan, Al Washliyah menunjukkan komitmennya pada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Buku ini juga dilengkapi dengan penjelasan tentang bendera, lambang, lagu, dan himne organisasi, serta rincian pengurus wilayah dan PPLN. Sebagai panduan komprehensif, Buku Pintar Al Washliyah cocok untuk siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang organisasi ini. Selamat membaca!  

RA Al-Washliyah Sindang Jadikan Sekolah Laboratorium Karakter dan Kemandirian Siswa

 

Indramayu, Menanamkan kemandirian pada anak usia dini bukan sekadar melatih mereka melakukan aktivitas harian secara personal, melainkan upaya membangun fondasi karakter yang kokoh. Hal inilah yang menjadi fokus utama RA Al-Washliyah Sindang, Indramayu, dalam membentuk generasi cerdas yang berakhlak mulia melalui pembiasaan rutin yang bermakna.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan unggulan di Kecamatan Sindang, RA Al-Washliyah mengintegrasikan literasi dasar dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Upaya RA Al-Washliyah dalam mencetak generasi unggul ini mendapat perhatian khusus dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu. Dalam kunjungannya, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kemenag Indramayu, H. Slamet Edi, meninjau langsung efektivitas program pembiasaan yang diterapkan di sekolah tersebut pada Rabu (1/4/2026).

"Kami sangat mengapresiasi inovasi dan konsistensi RA Al-Washliyah dalam membentuk kemandirian siswa. Pendidikan di tingkat RA adalah fondasi awal, dan apa yang dilakukan di sini, mulai dari penguatan literasi hingga nilai keagamaan, sudah sangat sejalan dengan visi misi Kemenag dalam melahirkan generasi yang unggul dan berakhlakul karimah," tegas H. Slamet Edi.

Setiap hari, siswa diajarkan untuk menjalankan rutinitas yang dirancang untuk menyeimbangkan aspek spiritual dan nasionalisme. Wali Kelas A1, Demita Pramesti mengungkapkan bahwa pembelajaran tidak hanya pada literasi dasar tetapi pembentukan karakter, nasionalisme dan pengembangan spiritual yang diajarkan sejak dini.

“Pada hari Senin, kegiatan dimulai dengan upacara bendera sebagai wujud pengenalan nilai kenegaraan. Memasuki hari Selasa, fokus beralih pada pembelajaran huruf hijaiyah dan Iqra, disusul mengaji bersama pada hari Jumat, serta pengenalan huruf abjad pada hari Sabtu,” ujar Demita.

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa keberagaman kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi siswa dari berbagai sisi.

"Kami menyediakan berbagai ekstrakurikuler seperti drumband, mewarnai, menggambar, angklung, hingga menari. Selain itu, ada pendalaman keagamaan sejak dini melalui hafalan hadits, surat-surat pendek, dan juz 30," terang Demita.

Prinsip utama yang diusung sekolah ini adalah menjadikan sekolah sebagai laboratorium karakter. Kemandirian tidak diajarkan sebagai teori, melainkan dipraktikkan melalui interaksi harian agar siswa terbiasa mandiri tanpa harus selalu bergantung pada orang dewasa.

Wakil Kepala Sekolah RA Al-Washliyah, Linda Firgianti, menegaskan bahwa pola pembiasaan ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak.

"Pembiasaan dilakukan agar siswa selalu mandiri, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karena itu, siswa kami latih mandiri sejak dini agar mereka siap menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya dengan karakter yang kuat," ujar Linda.

Melalui pendekatan yang menyenangkan dan bermakna, RA Al-Washliyah terus berkomitmen memberikan layanan pendidikan yang komprehensif. Dengan memadukan kecerdasan intelektual, kreativitas, dan penguatan nilai keagamaan, sekolah ini optimis dapat mencetak generasi yang cinta tanah air dan teguh dalam prinsip Islami.

 

Generasi Pejuang Al Washliyah Dari Zaman ke Zaman

 

SENIN, 22 Agustus 2022, Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah mengundang saya untuk menjadi narasumber dalam acara Ya Salam serial ke-57. Ini merupakan kali kedua saya menjadi narasumber dalam acara ini setelah sebelumnya membahas tentang jejak intelektualitas dan nasionalisme para pendiri Al Washliyah. Untuk diskusi kali ini, saya diminta untuk mengulas sebuah tema menarik, yakni “Generasi Pejuang Al Washliyah dari Zaman ke Zaman.” Kegiatan diskusi kali ini dipandu oleh Ustaz Anas Abdul Jalil, dan dihadiri oleh unsur Pengurus Besar, Dewan Fatwa, LKSA PB Al Washliyah, Pengurus Wilayah, pengurus organisasi bagian Al Washliyah, serta dosen dan mahasiswa UNIVA Medan.

Dalam diskusi yang diadakan secara virtual ini, saya telah menyampaikan beberapa slide terkait lima poin. Pertama, arti pejuang Al Washliyah yang saya maksudkan untuk mendudukan persoalan dan fokus pembahasan. Kedua, beberapa nama penting yang termasuk dalam kategori pejuang Al Washliyah terutama bagi kemerdekaan Indonesia dan juga kemajuan organisasi. Ketiga, keterbatasan informasi biografis tentang para pejuang Al Washliyah. Keempat, solusi kreatif yang bisa dikerjakan pengurus organisasi di masa mendatang dalam rangka menuntaskan masalah keterbatasan studi biografis tersebut. Kelima, beberapa contoh dedikasi yang telah disumbangkan oleh pendiri Al Washliyah terutama Ismail Banda, Abdurrahman Sjihab dan M. Arsjad Th. Lubis bagi kemerdekaan Republik Indonesia, dan dari sini akan terlihat bahwa ketiganya layak dan pantas diberi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah. Demi kepentingan penguatan literasi Kealwashliyahan, saya kemudian mendeskripsikan secara tertulis apa yang telah saya sampaikan dalam diskusi kali ini.

Kegiatan Ya Salam saat ini sudah memasuki serial ke-57, dan tentu akan sangat menarik manakala semua narasumbernya dapat menuliskan ringkasan diskusi dari tema yang dibahas, kemudian Pengurus Besar Al Washliyah menerbitkannya dalam sebuah buku yang pastinya akan bermanfaat bagi seluruh warga Al Washliyah, kaum Muslim di Indonesia dan para peneliti Islam di Indonesia hari ini dan di masa mendatang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “pejuang” berarti “orang yang berjuang dan prajurit.” Kata pejuang berasal dari kata “juang” yang artinya “berlaga/berlawan; memperebutkan sesuatu dengan mengadu tenaga; berperang, berkelahi; berlanggaran; berusaha sekuat tenaga tentang sesuatu; berusaha penuh dengan kesukaran dan bahaya.” Kata “pejuang” juga sering dikaitkan dengan kata pahlawan yang artinya “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero.”

Sebagian pejuang kemudian oleh pemerintah Republik Indonesia diberi gelar pahlawan nasional. Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009 disebutkan bahwa pahlawan nasional adalah “gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.” Sebelumnya juga dikenal istilah pahlawan kemerdekaan nasional sebagaimana disebut dalam Keppres 228/1963 dimana artinya adalah “seseorang yang semasa hidupnya, karena terdorong oleh rasa cinta tanah air sangat berjasa dalam memimpin suatu kegiatan yang teratur guna menentang penjajahan di Indonesia, melawan musuh dari luar negeri ataupun sangat berjasa, baik dalam lapangan politik, ketatanegaraan, sosial-ekonomi, kebudayaan maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan yang erat hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan dan perkembangan Indonesia.”

Berdasarkan pengertian secara harfiah di atas, term “pejuang Al Washliyah” bisa diartikan dalam dua konteks, yakni perjuang kemerdekaan dari kalangan Al Washliyah dan pejuang organisasi Al Washliyah. Arti dari pejuang kemerdekaan dari kalangan Al Washliyah adalah mereka yang karena terdorong oleh rasa cinta tanah air turut merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia”. Sedangkan pejuang organsiasi Al Washliyah adalah “figur yang menonjol di internal organisasi karena berusaha sekuat tenaga dan rela berkorban untuk mengembangkan, memajukan dan membela organisasi Al Washliyah meskipun harus ditimpa kesukaran atau bahkan bahaya sekalipun,” atau juga “mereka yang sangat berjasa bagi perkembangan dan kemajuan organisasi.”

Sesungguhnya, Al Washliyah memiliki banyak figur yang berjasa dalam upaya merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Semua pendiri dan tokoh awal Al Washliyah termasuk pejuang kemerdekaan. Mereka di antaranya adalah Ismail Banda, Abdurrahman Sjihab, M. Arsjad Th. Lubis, Udin Sjamsuddin, Baharuddin Ali, O.K.H. Abdul Aziz, Abdul Wahab, Adnan Lubis, M. Ali Hanafiah Lubis dan Bahrum Djamil. Selain mereka, Al Washliyah memiliki sejumlah figur yang melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh di atas dimana figur pelanjut tersebut secara aktif menjadi bagian dari penyelenggara negara terutama melalui jalur legislatif di tingkat nasional. Mereka adalah Dja’far Zainuddin, O.K.H. Abdul Aziz, Umaruddin Sjamsuddin, Fathi Dahlan, Muis AY, Harun Amin, Aziddin, M. Kaoy Syah, Abdul Halim Harahap, M. Yusuf Pardamean Nasution, Rijal Sirait, Lukman Hakim Hasibuan, Dedi Iskandar Batubara dan Ahmad Doli Kurnia. Secara langsung maupun tidak langsung, kehadiran mereka di parlemen pusat turut mengharumkan nama organisasi. Mereka dapat dikatakan sebagai pejuang dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Tokoh-tokoh awal Al Washliyah ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan mengeluarkan fatwa jihad, ikut latihan militer, mengangkat senjata, serta berperang dan bergerilya untuk melawan agresi tentara sekutu yang mendukung penjajahan kembali Belanda di Indonesia. Sebagian dari mereka, karena pro dengan kemerdekaan Indonesia, ditangkap dan dipenjara oleh Belanda dan para pembantunya. Tokoh berikutnya juga turut melanjutkan perjuangan para tokoh awal tersebut untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam dan organisasi Al Washliyah di jalur legislatif.

Selain pejuang dalam konteks kemerdekaan dan kehidupan berbangsa dan bernegara, Al Washliyah juga memiliki sederetan figur yang memperjuangkan kemajuan organisasi. Mereka yang disebut sebagai pejuang organisasi adalah pendiri Al Washliyah, pemimpin Al Washliyah (terutama Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal), pimpinan Dewan Fatwa dan Dewan Pertimbangan Al Washliyah, pemimpin majelis/lembaga otonom, pemimpin organisasi bagian Al Washliyah yakni Muslimat, GPA, APA, IPA, HIMMAH, ISARAH dan IGDA, serta para rektor/ketua perguruan tinggi Al Washliyah. Para pemimpin Al Washliyah dan organisasi bagian di tingkat wilayah, daerah, cabang bahkan ranting juga merupakan pejuang organisasi yang tak kalah pentingnya. Terlepas dari kelemahan yang ada, mereka telah sangat berjasa bagi perkembangan dan kemajuan organisasi. Apresiasi terhadap mereka perlu dilakukan, salah satunya adalah dengan cara menuliskan biografi mereka untuk menunjukkan kiprah dan capaian yang berikan demi kemajuan organisasi. Gaya mereka dalam memimpin dan capaian yang dihasilkan akan menjadi teladan dan inspirasi bagi generasi Al Washliyah di masa mendatang.

Sekadar contoh, Al Washliyah memiliki dua belas ketua umum di tingkat pusat. Mereka, yang merupakan pejuang organisasi di level pusat, adalah Ismail Banda, Iljas, Abdurrahman Sjihab, T.H.M. Anwar, M. Arsjad Th. Lubis, Udin Sjamsuddin, Bahrum Djamil, M. Ridwan Ibrahim Lubis, Aziddin, Muslim Nasution, Yusnar Yusuf, dan Masyhuril Khamis. Menarik juga bahwa Al Washliyah juga memiliki pejuang dari kalangan perempuan dimana mereka pernah menjadi pemimpin organisasi perempuan Al Washliyah yakni Muslimat Al Washliyah, Angkatan Puteri Al Washliyah (APA) dan Ikatan Pelajar Al Washliyah Puteri. Para pemimpin Muslimat di tingkat pusat adalah Zubaidah Tamin, Zahara Dar, Asiah Lubis, Nur’aini R. Lubis, Azizah, Nurliati Ahmad.

Para pemimpin APA di tingkat pusat adalah Nurhayati Tamin, Salmah Marzuki, Maimunah Tamin, Maryam Lubis, Hasnah Nasution, Nur’aini R. Lubis, Hafsah Din, Chalidjah Hasanuddin, Rahmah Hawari, Yayah Nahdiyah, Mariam Sahar. Biografi mereka penting ditulis untuk sekadar menunjukkan bahwa Al Washliyah juga mengkader kaum perempuan untuk menjadi pemimpin.

Tegasnya, Al Washliyah perlu menulis biografi para pemimpinnya, termasuk biografi para tokoh perempuan Al Washliyah dan pemimpin organisasi bagian lainnya. Penulisan ini penting dilakukan terutama untuk mempromosikan Al Washliyah terutama figur-figur utamanya ke khayalak publik sembari membuktikan bahwa Al Washliyah secara kreatif terus melahirkan para pemimpin umat, bangsa dan negara untuk hari ini dan masa mendatang.

Tetapi disadari bahwa literasi tentang biografi para figur sentral Al Washliyah mulai dari tingkat pusat sampai daerah masih terbatas. Al Washliyah memiliki banyak tokoh penting, dan hanya sebagian kecil dari mereka yang sudah dituliskan. Masih begitu banyak sekali tokoh yang belum ditulis dan akhirnya terabaikan. Generasi penerus organisasi dari kalangan milenial kehilangan informasi tentang mereka. Keterbatasan informasi tentang biografi mereka disebabkan banyak faktor, dua di antaranya adalah (1) keterbatasan sumber-sumber kealwashliyahan, termasuk data tertulis tentang mereka, yang membuat sulit untuk merekonstruksi biografi mereka, dan (2) kegiatan riset dan publikasi tentang biografi mereka kurang begitu berkembang.

Sekali lagi, penulisan biografi para pejuang Al Washliyah perlu dilakukan dalam rangka mempromosikan Al Washliyah sebagai organisasi Islam yang telah banyak melahirkan figur penting sejak era kolonial sampai era terkini. Kegiatan riset dan publikasi tentang mereka perlu dilakukan mengingat keterbatasan literasi mengenai mereka. Tiga hal berikut diharapkan dapat menjadi solusi kreatif di masa mendatang dalam rangka menyelesaikan persoalan keterbatasan literasi tersebut.

Pertama, Al Washliyah perlu memiliki/memperkuat majelis yang membidangi riset, literasi dan publikasi dengan tugas utama menelusuri dan mengoleksi arsip-arsip organisasi secara nasional yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi aktivitas riset di masa mendatang termasuk menerbitkan keputusan-keputusan organisasi secara profesional dan profil pengurus Al Washliyah di tingkat pusat maupun wilayah dan daerah. Dahulu, Al Washliyah pernah memiliki Majelis Pustaka.

Kedua, perguruan tinggi Al Washliyah memberdayakan dan memperkuat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) terkait riset dan publikasi tentang organisasi khususnya tokoh Al Washliyah lintas zaman. Dosen dan mahasiswa didorong untuk meneliti seputar Kealwashliyahan utamanya tokoh yang berdedikasi bagi organisasi, bangsa dan negara.

Ketiga, pengurus organisasi bagian membuat program publikasi terkait biografi mereka yang berjasa bagi organisasi terutama para ketua umum dan sekretaris jenderal di tingkat pusat dan wilayah.

Dengan mempublikasi perjuangan para pemimpin Al Washliyah terutama bagi bangsa dan negara, Al Washliyah memungkinkan untuk secara mudah mengusulkan sebagian dari mereka yang layak untuk menjadi pahlawan nasional. Pengusulan seorang pejuang dari kalangan Al Washliyah untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional harus didasarkan pada kegiatan riset ilmiah, bukan karena spontanitas dan juga bukan karena didasari oleh emosi berorganisasi dan fanatisme terhadap figur yang diusung. Dengan melakukan riset mendalam, Al Washliyah akan mampu untuk meyakinkan pemerintah bahwa pejuang yang diusul sangat layak dan pantas menjadi pahlawan nasional.

Adalah Ismail Banda, Abdurrahman Sjihab dan M. Arsjad Th. Lubis merupakan pejuang dari kalangan Al Washliyah yang pantas dan layak mendapatkan gelar pahlawan nasional mengingat jasa mereka dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Beberapa poin berikut menunjukkan kemungkinan Ismail Banda untuk dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

(1) Pengakuan Mesir (kemudian negara-negara Arab) terhadap kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia, 22 Maret 1946, merupakan hasil perjuangan Ismail Banda dan koleganya di Kairo, Mesir.
(2) Ia turut membentuk panitia enam semasa era kolonial dengan tugas merencanakan dan mengkoordinasi kegiatan perlawanan terhadap Belanda di Mesir.
(3) Pada bulan September 1944, ia dan M. Zein Hassan “menyusup” ke Kongres Pan-Arab/Liga Arab dan menyampaikan nota, di hadapan para Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri negara-negara Arab, yang berisi 3 tuntutan: pengakuan atas kemerdekaan Indonesia, jaminan kesatuan Indonesia, dan ikut serta wakil-wakil Indonesia dalam menentukan masalah perdamaian pasca perang.
(4) Pasca proklamasi kemerdekaan, ia menjadi pengurus Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia. Menjalin kerjasama dan dukungan berbagai partai politik, organisasi Islam dan pers demi pengakuan negara-negara Arab terhadap kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Ia ditugaskan untuk melobi Ikhwanul Muslimin.
(5) Kata Abdul Kahar Muzakkir, Ismail Banda sebagai Ketua Panitia Kemerdekaan Indonesia di Mesir menjadi penghubung pihak Indonesia dengan pemerintah Mesir, parpol, surat kabar dan kedutaan asing.

(6) Ia menghadiri Konferensi Arab Islam (dihadiri pejabat dan tokoh negara-negara Arab), 16 Oktober 1945, di Mesir dan menyampaikan dua tuntutan: menuntut negara-negara Arab menyokong perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya; dan menuntut negara-negara Arab mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
(7) Ia berhasil melobi Dewan Fatwa al-Azhar, Kairo, Mesir, untuk mengeluarkan fatwa tentang haji melalui NICA (Nederlandsch Indische Civiele Administratie), fatwanya adalah “orang yang pergi haji melalui NICA itu tidak sah hajinya.”


(8) Ia mengkoordinir mahasiswa di Mesir untuk berdemonstrasi memprotes agresi militer Belanda. Banyak tokoh yang kemudian menjadi pahlawan nasional memberikan testimoni perihal peran Ismail Banda dalam perjuangan kemerdekaan di luar negeri. “Ismail Banda turut memperjuangkan pengakuan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia” demikian kata Jenderal Abdul Haris Nasution. “Ismail Banda termasuk yang menjalankan peranan penting untuk kemerdekaan kita di luar negeri” tutur Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Pasca kemerdekaan, Ismail Banda turut mengisi kemerdekaan, terutama menjadi diplomat.

Selain itu, Abdurrahman Sjihab sebagai pejuang kemerdekaan juga pantas diberi gelar sebagai pahlawan nasional. Beberapa poin berikut menjadi indikasi dari kepantasan tersebut.
(1) Ia menghadapi penguasa Jepang di Sumatera Timur untuk menyelesaikan masalah keharusan melakukan keirei bagi rakyat Indonesia, ketika para Sultan dan pemuka agama di Sumatera Timur, sebagaimana diungkap Buya HAMKA, hanya menyerahkannya pada takdir. Keirei adalah “memberi salam dengan membungkuk sedalam 30 derajat ke arah Istana Kaisar Jepang,” yang saat itu dinilai kaum Muslim seperti gerakan rukuk dalam salat dan melakukannya dinilai haram.
(2) Ia mengirimkan pesan ke Presiden Soekarno dan Gubernur Sumatera Mohammad Hassan pada tanggal 9 Oktober 1945 bahwa “Al Jam’iyatul Washliyah turut mempertahankan Republik Indonesia.”
(3) Ia menginisiasi rapat khusus Al Washliyah di Medan, 27-28 Oktober 1945, di antara keputusannya: mengirim pesan ke Presiden Soekarno “di atas nama 50.000 keluarga, Al Jam’iyatul Washliyah menghendaki 100%”, dan memerintahkan seluruh pengurus, anggota dan simpatisan Al Washliyah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan memberikan pengorbanan menurut kesanggupan masing-masing.
(4) Ia mendorong Madjlis Al-Fatwa mengeluarga fatwa jihad menolak kedatangan Belanda dan mati syahid bagi mereka yang mati dalam pertempuran menolak kedatangan Belanda dan pembantunya ke Indonesia.
(5) Ia turut menginisiasi pembentukan Majelis Pertahanan Kemerdekaan Al Jam’iyatul Washliyah dan mengharuskan keluarga besar Al Washliyah mengikuti latihan perang. Kemudian ia turut membentuk Badan Pertahanan Al Washliyah.
(6) Ia menolak keberadaan Negara Sumatera Timur yang dinilai sebagai negara boneka buatan Belanda, dan mendukung pembubarannya dalam Kongres Rakyat Sumatera Timur, kemudian secara aktif mengembalikan Sumatera Timur ke dalam pangkuan NKRI. Pasca kemerdekaan, Abdurrahman Sjihab secara aktif mengisi kemerdekaan. Ia pernah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), anggota DPRS Republik Indonesia dan Ketua Majelis Syuro DPP Partai Masjumi. Kala itu, ia telah menjadi figur penting di pentas nasional.

Kemudian, M. Arsjad Th. Lubis (Tuan Arsjad) sebagai pejuang kemerdekaan juga layak diberikan gelar pahlawan nasional. Saat ini ia sedang diusulkan untuk mendapatkan gelar tersebut. Beberapa fakta berikut menjadi bukti bahwa ia layak dan pantas mendapatkan gelar tersebut.


(1) Ia menjadi Wakil Ketua Badan Pertahanan Al Jam’iyatul Washliyah Markas Besar Tebing Tinggi.
(2) Pada bulan Nopember 1945, ia menghidupkan kembali penerbitan majalah Medan Islam yang memuat “tuntunan perang sabil menurut ajaran Islam dan memuat pelajaran membaca doa qunut dalam sembahyang untuk mendoakan kemenangan kaum Muslimin dan kehancuran musuh.” Majalah ini berhasil menjadi “terompet membela kemerdekaan dan sebagai penghubung kantar keluarga Al Jam’iyatul Washliyah dan umumnya rakyat Indonesia.”


(3) Ia menerbitkan buku Toentoenan Perang Sabil dimana Tuan Arsjad menegaskan perihal ketetapan hukum perang melawan bangsa Belanda. Ia memfatwakan “… menurut paham dan pendirian saya, pertempuran dalam peperangan melawan bangsa Belanda dan pembantu-pembantunya yang hendak menguasai tanah air kita Indonesia ini, adalah termasuk dalam bahagian peperangan yang diridai Allah, peperangan yang melawan musuh-musuh Allah dan peperangan yang akan dapat mempertinggi kalimat Allah di Indonesia.

Sebab itu, siapa yang turut dalam peperangan tersebut dengan niat yang ikhlas, dengan niat akan meninggikan kalimat Allah, dengan niat menuntut keridaan dan pahala dari pada Allah, dengan niat untuk membinasakan musuh-musuh Allah, maka adalah dia berperang itu di dalam sabîlillâh dan jikalau mati terbunuh, matinya syahîd fi sabîlillâh, surga menjadi tempatnya. Wa Allâhu a‘lam.” Kata Bahrum Jamil, buku Toentoenan Perang Sabil “disita dan diserobot Belanda dan kaki tangannya, karena buku itu sungguh-sungguh sangat ditakutkan oleh tentara pendudukan masa itu.” Buku tersebut berhasil menggelorakan semangat jihad melawan agresi Belanda dan para pembantunya yang hendak kembali menguasai Indonesia. Ia kemudian ditangkap dan dipenjara oleh Belanda selama 9 bulan, 29 Maret 1949–23 Desember 1949. Penangkapan ini merupakan bentuk “balas dendam politik” pihak musuh terhadap Tuan Arsjad yang dinilai sebagai figur berpengaruh kala itu dan fatwa jihadnya telah mengganggu kepentingan penjajah.

Dr. Ja’far, M.A.
Ketua LKSA PB Al Washliyah
Dosen Pascasarjana IAIN Lhokseumawe 

Merajut Ukhuwah Bersama Tokoh Al Washliyah Bandung yang Tak Kenal Lelah

 


MERAJUT Ukhuwah Islamiyah, adalah merupakan salah satu ciri atau sibghah organisasi Islam Al-Washliyah yang sejalan dalam ajaran Islam.

“Bahwa sesungguhnya orang yang beriman itu adalah bersaudara bahkan Rasulullah juga bersabda, “Muslim itu bersaudara dengan Muslim lainnya, bagaikan sebuah bangunan yang saling menopang untuk kekuatannya.”

Terkait dengan hal tersebut di atas, baru-baru ini penulis dapat kembali merajut ukhuwah dan silaturrahim sesama washliyin, di kediaman Ustadz H. Afifuddin Abddul Muis di kompleks SMP Islam Al Washliyah, Kawaluyaan, Kota Bandung, Jawa Barat.

Ustadz H. Afifuddin, tampak dari wajahnya yang sumringah menerima kunjungan sahabat seperjuangan dari Mataram, Nusa Tenggara Barat [NTB], walaupun rawut wajah yang sudah menunjukkan sesepuhnya, namun semangatnya ketika berbicara Al Washliyah tidak pernah padam.

Kedekatan hubungan personal penulis [Aswan Nasution] bersama Ustadz Afifuddin memiliki kenangan manis-pait getir dalam suka-duka selama berada di Jawa Barat begitu juga penulis pernah bergabung bersama dalam barisan Pengurus Wilayah Al Washliyah Prov. Jawa Barat Priode 1986-1989.

Ustadz Afifuddin Abdul Muin [78 Tahun] sesepuh Al Washliyah Bandung yang masih aktif bahkan tak pernah mengenal lelah dipergerak membangun Al-Washliyah di Kota Bandung [Kota Kembang].

Afifuddin adalah tercatat dalam Alumni 1963 di Madrasah Al-Qismul A’ly Al Washliyah, Jln. Ismailiyah, satu angkatan bersama Allah yarham Ustasdz Drs. H.M. Nizar Syarif, murid langsung dari Tuan Arsyad Thalib Lubis, Ulama dan Pendiri Al Washliyah.

Sungguh menarik, bersama beliau berbincang-bincang sekitar historis keberadaan Al Washliyah di Kota Bandung [Kota di Kembang], di masa lalu dan akan datang.

Afifuddin, memulai terhitung dari tahun 1966 sampai sekarang ini, dari pulau seberang Sumatera Utara hijrah ke tanah Parahiyangan Jawa Barat ke Tasik Malaya dan Kota Bandung, untuk mengembangkan Organisasi Islam Al Washliyah ini, dengan panggilan jiwa dan “Darah hijau Al-Washliyah.”

Ustadz Afifuddin, selama di Kota Kembang ini, telah dapat membuktikan melalui karya besarnya, meski beliau ke Bandung-Jawa Barat tidak datang dengan membawa bekal mandat dari PB. Al Washliyah.

Sedangkan penulis, ketika itu, mendapat rekomendasi dari Ketua Umum PB. Al Washliyah, Allah yarham H. Bahrum Jamil, SH, pada tahun 1983 yang berlokasi di Nagreg, Kab. Bandung dan Paseh, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Kecintaan kepada Al Washliyah, Ust.Afif, telah membuktikan dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberinya nama; “Lembaga Pendidikan Al Washliyah.”

Afifuddin berkisah, sejak merintis pendidikan Al Washliyah Bandung pada tahun 1973, yang beliau mulai untuk mengumpulkan kaum ibu dengan melakukan berbagai kajian-kajian agama Islam, dengan dukungan bersama para kaum ibu itulah berdirilah pendidikan Al Washliyah Bandung.

Kemudian Afifuddin memperdayakan kumpulan tersebut menjadikan Majelis Taklim kaum ibu itu ke dalam sebuah perkumpulan yang di belakang hari bermetamorfiris menjadi Muslimat Al Washliyah.

Sosok, Hj. Idawati Surachman yang pernah memimpin Muslimat Al Washliyah Jawa Barat merupakan salah seorang kader militan yang pernah dilahirkan melalui rahim Majelis Taklim yang dibina oleh Ustadz H. Afifuddin Abdul Muis.

Afifuddin juga berbicara masa pasang surut dan dinamika perkembangan Al Washliyah Bandung, beliau memberikan kesan tentu namanya organisasi besar ini tidak luput dari masalah kecil mau pun besar, itulah dinamika dalam berorganisasi. Al-hamdulillah kesemuanya dapat diselesaikan dengan arif dan bijaksana, ungkap Afifuddin.

Dalam catatan penting beliau, tak berlebihan, bahwa ia tidak sependapat dan kekurang tepatan jika menempatkan orang-orang di tubuh kepengurusan Al Washliyah bukanlah kader, bila hal ini terjadi, dipandang sebagai kegagalan organisasi Al Washliyah ini, dalam mencetak dan melahirkan kader-kader Al Washliyah yang tangguh guna meneruskan cita-cita dan perjuangan Al Washliyah ke depan.

Dengan harapan besar PB. Al-Washliyah dan PW Al Washliyah Jawa Barat dapat bersinergi secara oftimal, sebagaimana tuntutan organisasi itu sendiri,untuk dapat berkembang terus dan maju bisa diperhitungkan dan sepadan bersanding bersama organisasi besar Islam lainnya sampai ke daerah-daerah.

 

 

 

Ketika Perempuan Memilih, Islam Memberi Ruang Selama Tetap Menjaga Nilai dan Tanggung Jawab

 

Perempuan yang memilih jalan karier bukanlah persoalan yang bertentangan dengan Islam selama pilihan tersebut dijalankan dengan kesadaran, tanggung jawab, dan tetap berpijak pada nilai-nilai agama. Hal itu menjadi pokok pembahasan Prof. Dr. Umaimah Wahid, M.Si dalam ceramah bertema “Ketika Perempuan Memilih Karier: Bagaimana Islam Memandangnya.”

Dalam ceramahnya, Prof. Umaimah menjelaskan bahwa Islam tidak memandang perempuan hanya dari ruang domestik semata. Perempuan memiliki kapasitas untuk berperan di tengah masyarakat, mengembangkan ilmu, bekerja, dan memberi manfaat lebih luas. Namun, pilihan berkarier tetap perlu diletakkan dalam kerangka tanggung jawab moral, keluarga, dan sosial.

Menurutnya, persoalan utama bukan pada boleh atau tidaknya perempuan bekerja, melainkan bagaimana perempuan menjalankan perannya secara seimbang. Karier seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan orientasi spiritual, mengabaikan keluarga, atau menjauh dari prinsip kemaslahatan.

Prof. Umaimah juga menekankan bahwa perempuan perlu memiliki kesadaran diri dalam menentukan pilihan hidup. Menjadi perempuan karier maupun memilih fokus pada keluarga sama-sama memiliki nilai selama dilakukan dengan niat baik, tanggung jawab, dan tidak merendahkan pilihan perempuan lain.

“Islam tidak melarang perempuan untuk berkarier. Yang penting adalah bagaimana karier itu dijalankan dengan tanggung jawab, menjaga kehormatan, memberi manfaat, dan tidak melupakan nilai-nilai utama dalam kehidupan.”

“Perempuan memiliki hak untuk mengembangkan potensi dirinya. Tetapi hak itu perlu berjalan bersama kesadaran bahwa setiap pilihan membawa tanggung jawab, baik kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, maupun kepada Allah.”

“Yang perlu dihindari adalah cara pandang yang saling menghakimi. Perempuan yang bekerja tidak boleh dianggap meninggalkan kodratnya, dan perempuan yang memilih mengurus keluarga juga tidak boleh dianggap tidak produktif.”

Ceramah ini menegaskan bahwa Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia karier. Namun, ruang tersebut perlu dijalani dengan keseimbangan, etika, dan orientasi ibadah. Dengan demikian, pilihan perempuan untuk berkarier dapat menjadi bagian dari kontribusi sosial sekaligus jalan pengabdian yang bernilai di hadapan Allah.

 

Berita

PWAWJabar

Pendidikan

Pendidikan

Sejarah

Sejarah

Dakwah

Dakwah

Sosial

Sosial

Muslimat

Muslimat

Opini

Vokaopini

Tokoh

Tokoh